Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

When You are Gone

            After all this time together I never thought that you would leave me if you feel what I’m feeling right now?
and do you know what I want? I need you by my side I miss our times together may you never feel it
how sick and miserable I was when you left. I repeatedly read all messages from you to not feel the tears fall,

Just a Dream

       There I was again tonight. I invited to join a party with all my beloved friends. I was happy since I can meet my old friends there. On my way, it has gone happily but, then, when I was there, everything wasn’t as well as what I have imagined. I was forcing myself to laugh with faking smiles. There was full with walls of insincerity. Then when all have been same old tired, I was shifting my eyes and I found a vacancy of love. I couldn’t enjoy everything but him. What I have felt before, it vanished when I saw his face. All I can see is that it was enchanting to meet him. It just like his eyes whispered “have we meet?”. Ohh God! his sillhouette crossed the room, and starts to make its way to me, then I founded in a lonely place.

Kotak Keadilan

       Arden meninggalkan ruangan tersebut. Sebuah bangunan besar mirip gudang. Yang telah ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun lalu mungkin. Ruangan gelap penuh dusta, kebohongan dan amarah. Yang di sudut-sudutnya bergelantungan banyak sarang laba-laba, di setiap inchi lantainya penuh dengan debu tebal berwarna hitam. Aroma ruangan itu juga sangat menyiksa hidung. Bau kotoran tikus dan lembab karena disfungsi ventilasi. Apalagi ditambah dengan bau darah segar yang membasahi salah satu sudut ruangan tersebut. Seonggok mayat laki-laki yang tercelup di atasnya. Belum kaku, masih hangat dan berbau anyir darah. Arden mengusap hidungnya menggunakan lengan jaketnya, yang menjadi satu-satunya bagian dari jaket jeansnya yang tidak kotor terkena debu dari ruangan. Dia terus melangkah keluar. Ke arah jalan kecil dan menuju ke arah selatan. Hujan deras dan dinginnya malam di Cinunuk menjadi penambah rasa bagi panjangnya malam ini untuknya. Tersenyum, puas dan seperti hidup untuk kedua kalinya.

Rabu, 21 Mei 2014

The Black Basketball

Jakarta, 16 februari 2000.
Hari itu cuaca sedang tidak bersahabat, langit ditutupi awan gelap dan bunyi petir pun saling bersahutan seperti pertanda bahwa akan terjadinya hujan deras. Benar saja, belum 10 menit sudah terdengar gemericik air hujan di pekarangan rumah Dita. Yap Dita, dia lebih suka dipanggil seperti itu dibandingkan dipanggil dengan nama lengkapnya yaitu Andhita. Dia menatap langit dengan wajah muram sesekali dia mencoba melihat handphone yang tergeletak di samping tempat tidurnya dan berharap mendapat sms dari pacarnya, Hadi.